Penelitian yang dilakukan terhadap situs megalitikum Gunung Padang Cianjur dalam beberapa tahun terakhir ini menarik perhatian banyak orang. Hal itu tak lepas dari pernyataan beberapa arkeolog yang tergabung dalam tim penelitian Gunung Padang yang menyebut bahwa situs ini merupakan situs tertua di dunia yang dibentuk oleh manusia.
Meskipun belum ada bukti valid yang mendukung pernyataan tersebut, kabar yang berhembus sudah sedemikian kuatnya. Masyarakat banyak mendapatkan berita tentang usia situs Gunung Padang yang konon katanya jauh melebihi usia Piramida Giza di negara Mesir.
Sayangnya, pemerintah Kabupaten Cianjur tidak pernah dilibatkan atau diberikan andil dalam penelitian tersebut. Padahal, lokasi situs Gunung Padang berada di Kabupaten Cianjur tepatnya di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka.
“Walaupun leading sectornya oleh pusat, sebagai pemilik daerah, hendaknya Pemkab juga dilibatkan. Setidaknya ada keterbukaan lah ke Pemda,” kata Sekretaris Komisi III DPRD Cianjur , Yusuf Roida kepada harian pikiran rakyat usai melakukan pemantauan ke situs megalitikum Gunung Padang, Senin (27/10).
Yusuf menuturkan, keterbukaan ini bisa dilakukan tim melalui laporan berkala yang diberikan kepada DPRD dan Pemkab Cianjur. Ini dilakukan, agar pemangku daerah tahu dan paham secara detail terkait progres penelitian di Gunung Padang.
“Selama ini belum pernah ada kan? Dari dinas juga belum ada, mestinya ada report seperti apa,” ucapnya.
Berdasarkan pantauan pihaknya, saat ini aktivitas penelitian di Gunung Padang memang masih dilakukan. Meski begitu, alat-alat berat penelitian seperti bor sudah tidak ada. Hanya lubang-lubang galian eskavasi yang masih dijaga oleh tim peneliti.
CIANJUR [BC],-Mengenai penelitian, DPRD menilai penelitian memang seharusnya diteruskan untuk mengetahui lebih jauh tentang, namun dengan catatan tidak merusak dan sesuai dengan kaidah penelitian yang ada.
“Itu (penelitian) butuh dikembangkan dan etika penelitiannya harus jelas. Jangan sampai merusak. Ini harapan dari warga Cianjur. Sebagai pemerintah daerah kami ingin jadi daerah wisata,” ucapnya.
Mengenai retribusi dari kunjungan ke Gunung Padang saat ini, Yusuf mengaku pemasukannya masih masuk ke kas desa. Pasalnya, Pemda belum bisa menarik retribusi karena belum ada jasa ke masyarakat. Pihaknya pun mengaku masih menunggu koordinasi dari pihak Pemda terkait pengelolaan wisata di Gunung Padang.
“Enggak bisa menarik retribusi tanpa jasa ke masyarakat. Yang jelas, penataan harus bersama. Sebagai yang punya daerah harapannya ya Pemda juga punya peran,” ucapnya.
Sementara itu, Sekretaris Timnas Pelestarian dan Pengelolaan Gunung Padang Erick Ridzky menyambut baik jika Pemda Cianjur bersedia dilibatkan dalam penelitian Gunung Padang.
Menurutnya, ada baiknya DPRD mengundang tim untuk memaparkan informasi yang lengkap terkait Gunung Padang. “TTRM tentu akan dengan senang hati menyambut undangan tersebut. Kami akan paparkan penelitian di depan anggota dewan,” kata Erick.
Mengenai transparansi, Erick mengaku selama ini tim sudah cukup terbuka dalam mengekspos penelitian Gunung Padang. Ini bisa dilihat dari pemberitaan di media dan kunjungan ke Gunung Padang yang tidak ditutup meskipun tim sedang melakukan penelitian. “Kami sudah terbuka mengenai penelitian ini,” ucapnya.

Posting Komentar
Terima Kasih atas komentar anda.
Redaksi Kabarcianjur.tv